marquee

welcome to my blog!! Enjoy it! DQalb

Minggu, 31 Mei 2015

Evaluasi PEDAGOGI II

URAIAN DAN EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN PEDAGOGIK
KELOMPOK  4 :


DEDY QALBU HADI 13-011  (13011dqh.blogspot.com)
WICAKSONO AJI WINAHYU 13-047
(13047waw.blogspot.com)
NURLINA
DEWIPA 13-054 (13054ndh.blogspot.com)
M. FIRMAN AKBAR 13-088 (
13088mfa.blogspot.com)
DESSY NATALIA 13-130
(dessychologist.blogspot.com)

Teori Pedagogi Dikaitkan Dengan Performa Yang Akan Ditampilkan Kelompok

Teori yang dipakai oleh kelompok adalah teori pembelajaran scaffolding yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky. Scaffolding adalahh suatu teknik pemberian pembelajaran secara struktur yang dilakukan pada tahap awal untuk mendorong peserta didik dapat belajar secara mandiri. Pemberian dukungan pembelajaran tersebut tidak dilakukan secara terus menerus, tetapi dengan berkembangnya kemampuan peserta didik, secara berangsur-angsur orang dewasa yang memberikan pengajaran mengurangi dan melepaskan siswa untuk belajar mandiri.

Konsep pembelajaran

Konsep pembelajaran yang kelompok ajarkan menggunakan konsep praktik langsung. Peserta didik diberikan contoh bagaimana cara membuat bunga dari bahan gelas plastik, kemudian mereka diberikan kesempatan untuk membuatnya secara mandiri. Kelompok hanya mengawasi dan membantu ketika mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Alat Dan Bahan

Alat :
1. gunting
2. hekter

Bahan :
1. sampah gelas pelastik
2. kuas
3. cat

Cara Pelaksanaan

Pertama, siapkan alat dan bahan (kayu, sampah gelas pelastik, hekter, gunting dan cat)
Potong mulut gelas menggunakan gunting hingga menjadi gelang
Gelas yang telah dipotong, lalu digunting bagian badannya sampai kedasar. Potongan berjumlah 8. Potongan ini akan dijadikan sebagai kelopak bunga.
Setiap potongan ditarik ke belakang gelas dan disisipkan potongan gelang yang berasal dari mulut gelas ke salah satu kelopak, kemudian di hekter.
Selanjutnya potongan gelas lain disambung melalui gelang-gelang hingga membentuk tirai bunga.
Lalu cat tirai sesuai dengan warna kesukaan.

Tantangan

Waktu
Tantangan yang dihadapi kelompok dalam hal pengaturan waktu adalah menyesuaikan antara waktu yang dimiliki anak-anak dengan kelompok.
Topik
Tantangan yang dihadapi kelompok yang berhubungan dengan topik adalah menentukan topik yang tepat untuk diajarkan kepada anak-anak. Dimana, sebelumnya terdapat beberapa masukan topik untuk diajarkan kepada anak-anak seperti bermain peran (drama) dan membuat kerajinan tangan dari sampah gelas plastik.
Alat dan Bahan
Tantangan yang dihadapi kelompok yang berhubungan dengan alat dan bahan tidak ada. Karena alat dan bahan yang dibutuhkan mudah didapat oleh anggota kelompok.
Proses Pelaksanaan
Tantangan dalam proses pelaksanaan adalah pemilihan lokasi tempat yang beragam, jarak yang jauh, faktor cuaca seperti hujan, cara penyampaian materi dan pembagian tugas masing-masing anggota kelompok.
Pengaturan Peserta
Tantangan dalam pengaturan peserta adalah menentukan anak-anak yang menjadi partisipan dalam pelaksanaan program pembelajaran pedagogi.

Proses Yang Terjadi Selama Pelaksanaan
Pertemuan 1 : Mengajari langkah-langkah membuat tirai bunga dan kincir-kincir angin dari sampah gelas plastik.
Hal pertama yang kami lakukan sebelum mengajari anak-anak membuat tirai bunga dari sampah gelas plastik adalah tahap perkenalan dengan anak-anak yang akan diajari, mereka berjumlah 12 orang dari kelas 1 sampai kelas 6 SD.
Kedua, kami menyampaikan dan menjelaskan maksud dari tujuan kami mengajari mereka membuat tirai bunga dan kincir-kincir dari sampah gelas plastik dan memberi tahu kepada mereka apa saja manfaat yang didapatkan dari membuat tirai bunga tersebut.
Ketiga, setelah berbincang-bincang dengan anak-anak kami memperlihatkan tirai bunga yang telah jadi kepada mereka lalu mengajari dan mencontohkan langkah-langkah membuat tirai bunga tersebut dari awal hingga selesai dan pada saat itu kami memperbolehkan anak yang mau mencoba untuk membuat tirai bunganya. Disamping itu kami juga mengajari langkah-langkah mebuat kinci-kincir angin namun kincir-kincirnya tidak bisa berputar.
Diakhir pertemuan kami mengucapkan terima kasih kepada mereka dan memberikan reward atas ketersediaan mereka untuk diajari membuat tirai bunga dari sampah gelas plastik tersebut.

Pertemuan 2 : Mengajari anak membuat tirai bunga dan kincir-kincir angin dengan cara kerja kelompok.
Pertama, kami membagi anak menjadi 2 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 6 orang.
Kedua, masing-masing kelompok bekerjasama membuat tirai bunga dan kincir-kincir angin sampai bisa walaupun masih dengan bantuan. Setelah mendapat solusi membuat kincir-kincir angin supaya bisa berputar pada saat itu juga kami membatalkan membuat kincir-kincir angin sebab anak-anak kurang tertarik mengerjakannya juga dikarenakan langkah-langkahnya yang sulit.
Diakhir pertemuan kami berterima kasih atas kehadiran mereka lagi dan memberikan reward kepada anak-anak.

Pertemuan 3 : Anak praktek sendiri membuat tirai bunga tanpa diajari.
Pertama, dari 12 anak kami pilih 6 anak untuk di dokumentasikan, yaitu anak-anak dari kelas 3-6 SD.
Kedua, ke-6 anak tersebut dibiarkan membuat tirai bunga tanpa diajari lagi walaupun masih ada anak yang dibantu untuk menghekterkan bunganya karena tangannyaa kurang kuat untuk menekan hekter tersebut.
Setelah anak-anak menyelesaikan tirai bunganya anak-anak mencat tirai bunga tersebut sesuai dengan warna yang mereka suka dengan cat yang telah kami sediakan.
Ketiga, kami mewawancari masing-masing anak tentang perasaan mereka selama 3 hari membuat tirai bunga dari sampah gelas plastik dengan kami.
Diakhir pertemuan kami sangat berterima kasih kepada anak-anak tersebut dan memberikan reward.

Kendala Yang Dihadapi
Waktu
Ketidaksesuian jadwal antara perencanaan program dengan pelaksanaan program. Dalam perencanaan program jadwal yang ditentukan adalah pada tanggal 16-18 April 2015, namun pada saat pelaksanaan menjadi tanggal 16, 17, dan 19 April 2015.
Pertemuan Pertama :
Keterlambatan anggota dan anak-anak dalam memulai proses pembelajaran (15 menit)
Penggunaan waktu terlalu minim, sehingga terlalu cepat membubarkan proses pembelajaran (10 menit).
Pertemuan ke-dua:
Keterlambatan beberapa anggota kelompok selama 10 menit.
Terlalu banyak memakan waktu pembelajaran, sekitar 90 mneit.
Pertemuan ke-tiga:
Pertemuan ke-tiga harusnya dilaksanakan pada tanggal 18 April 2015, namun karena cuaca dan situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya pertemuan diundur menjadi tanggal 19 April 2015.

Alat Dan Bahan
Pertemuan Pertama:

Tidak ada kendala.
Pertemuan ke-dua:
Kurangnya sampah gelas plastik yang tersedia, sehingga anggota membeli minuman mineral kemasan gelas sebanyak 1 kotak.
Dalam pembuatan kincir, awalnya kelompok menggunakan paku payung namun karena kincir tidak bisa berputar akhirnya kelompok menggunakan kawat.
Pertemuan ke-tiga:
Kurangnya gunting yang akan digunakan anak-anak, sehingga pembelajaran tertunda untuk mengambil gunting dirumah anak tersebut.

Proses Pelaksanaan
Pertemuan Pertama:
Banyaknya jumlah anak-anak membuat kelompok sulit untuk mengendalikannya.
Kurangnya persiapan kelompok dalam membuat kincir-kincir.
Pertemuan ke-dua:
Kuota anak yang melebihi rencana membuat kelompok harus membagi fokus pada dua kelompok.
Ketidaktertarikan anak-anak terhadap konsep kincir angin, sehingga konsep ini dibatalkan dari program.
Pertemuan ke-tiga:
Kurang persiapan dalam menyediakan reward untuk anak-anak, sehingga 2 dari anggota kelompok harus membeli reward disaat pembelajaran berlangsung.


EVALUASI
Ilmi Khoir Purba
-          Untuk Kincir angin? Apakah dicoba terlebih dahulu?
Jawab : kincir angin sebelum di demonstrasikan telah dicoba untuk dibuat terlebih dahulu, namun gagal. Hingga akhirnya kesepakatan dari anak-anak dan kelompok untuk tidak membuat kerajinan kincir angin.

-          Mengapa di hari kedua kelompok membeli air mineral dalam gelas sebanyak 1 kotak?
Jawab : dilatarbelakangi oleh kurangnya kerjasama dari peserta didik untuk membawa gelas plastik bekas masing-masing, akhirnya kelompok memutuskan untuk membeli air mineral sebagai penunjang proses belajar sekaligus stimulasi untuk anak-anak agar dapat memanfaatkan gelas yang sebelumnya mereka gunakan.

-          Mengapa jumlah Anak sampai melebihi kuota yang ditentukan?
Jawab : kurangnya pengendalian dari kelompok untuk membatasi jumlah anak-anak yang telah tersedia sebelumnya. Faktor-faktor diluar kendali seperti hubungan kekerabatan satu anggota kelompok dengan yang lain juga faktor tidak terkendalinya jumlah peserta didik.

-           
Shinta Meilastry
-          Bagaimana cara mengatasi jumlah peserta didik yang melebihi kuota?
Jawab : membagi anak didik ke dalam 2 kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan 6 anak

-          Bagaimana cara mengawasi penggunaan gunting pada peserta didik?
Jawab : gunting hanya diberikan pada peserta didik yang mengerti penggunaan gunting. Meskipun demikian, penggunaan gunting tetap diawasi oleh kelompok sebagai fasilitator pembelajaran

Ibu Filia Dina Anggaraeni
-          Apakah kelompok keberatan jika kelompok diasumsikan kurang memiliki persiapan dalam menjalankan program?
Jawab : kelompok tidak keberatan, karena menurut kelompok banyak sekali hal yang perlu diperbaiki dan dikoreksi untuk mewujudkan program pembelajaran yang lebih sempurna.

Pembagian Tugas

1. Dedy Qalbu Hadi(Pengajar Di Hari I, Ii Dan Iii ; Dokumentasi)
2. Wicaksono Aji Winahyu(Pengajar Di Hari I, Ii Dan Iii ; Dokumentasi)
3. Nurlina Dewipa(Pengajar Di Hari I , Ii Dan Iii)
4. M. Firman Akbar(Pengajar Di Hari I, Ii Dan Iii ; Dokumentasi)
5. Dessy Natalia(Pengajar Di Hari I, Ii Dan Iii)

Transaksasi Dana
Hari Pertama:

Yakult 10 botol
Rp 17.000,-

Top 10 bungkus
Rp 5.000,-

Total Dana Pengeluaran
Rp 22.000,-

Terbilang : Dua Puluh Dua Ribu Rupiah

Hari kedua:

 Jussie 10 bungkus
Rp 12.000,-

 Gery Salut 10 bungkus
Rp 5.000,-

Aqua1 kotak
Rp 25.000,-

Total Dana Pengeluaran
Rp 42.000,-

Terbilang : Empat Puluh Dua Ribu Rupiah


Hari ketiga:

Cat Kaleng 2 kaleng
Rp 20.000,-


Kuas 2 batang
Rp 10.000,-


Gery 10 bungkus
Rp 5.000,-


Momogi 10 bungkus
Rp 5.000,-

Total Dana Pengeluaran
Rp 40.000,-

Terbilang : Empat Puluh Ribu Rupiah
Total Pengeluaran Hari Pertama
Rp 22.000,-

Total Pengeluaran Hari Kedua
Rp 42.000,-

Total Pengeluaran Hari Ketiga
Rp 40.000,-

Total Dana Pengeluaran
Rp 102.000,-

Total Pengeluaran Keseluruhan
Terbilang : Seratus Dua Ribu Rupiah 

Rabu, 12 Maret 2014

Dilema Teknologi

Di era super duper canggih ini, setiap kebutuhan manusia dibantu oleh teknologi. Kalkulator, telepon, komputer, televisi, dan banyak lagi teknologi yang beredar di zaman ini. Begitu juga di ranah pendidikan, teknologi juga menjadi salah satu elemen penting dalam pengaplikasiannya. Akan tetapi, teknologi yang digunakan terkadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan bahkan menjadikan manusia malas untuk melakukan yang seharusnya.
            Dalam pendidikan, teknologi digunakan sebagai penunjang pembelajaran. Banyak teknologi terbaru muncul untuk memudahkan dan terkadang membuat manusia dilema akan teknologi ini. Salah satu contohnya adalah ketika dosen memberikan tugas rumah dan harus dikerjakan dengan membaca buku A, banyak murid yang tidak membaca buku tersebut dan beralih ke uncle Google untuk melihat setiap referensi dan jawaban-jawaban dari tugas tersebut *curhatan mahasiswa :’). Sudah terbukti bahwa manusia zaman Miley Cyrus, Justin Bieber, dan Katy Perry ini sangat dilema akan teknologi yang beredar.
            Bagaimanapun juga, teknologi tak bisa dipisahkan dari ranah pendidikan. Banyak teknologi yang sangat membantu proses pembelajaran dan juga membuat dilema setiap pemakaiannya. Ane membuat contoh “pembelajaran jarak jauh”. Sudah banyak sekolah-sekolah modern di Indonesia menggunakan pembelajaran jarak jauh antara siswa dan guru. Guru berada di Jakarta, para murid mungkin berada Tokyo, Liverpool, Manchester, dan dipelosok dunia lain. Bagaimana caranya? WEBCAM. Para murid dan guru menggunakan aplikasi yang dapat membantu mereka menatap satu sama lain di tiap komputer mereka. Siapa bilang ini tidak bisa dilema? Para guru yang menggunakan pembelajaran ini kemungkinan apabila mengajar secara langsung, akan berubah malas karena webcam ini. Yang biasanya ia hanya duduk dan membacakan buku untuk muridnya yang entah dimana, sekarang ia harus aktif menerima tiap pedang pertanyaan langsung dari muridnya. Dan murid menjadi tidak efektif menerima tiap pembelajaran tersebut.
            Ya, pastinya terjadi revolusi teknologi pada zaman ini. Bisa dibandingkan dengan zaman Elvis Presley, Bimbo, The Beatless (zaman orang tua doeloe). Dulu teknologi sangat sulit diraih. Untuk mengerjakan tugas, dibutuhkan tiga sampai empat buku untuk menemukan jawabannya. Untuk tugas makalah, mereka harus mengetik dengan mesin tik. Dibutuhkan surat untuk mengirim pesan kepada teman jauh, dan banyak lagi. Perjuangan mereka sangat berat, hidup mereka sangat pedih, Jenderal Muda! Kurang dilema apalagi generasi muda ini?
            Ya, dilema apabila kita tak bisa menggunakannya secara efektif dan efisien. “Ke-di-le-ma-an” ini bisa kita ubah dengan menggunakan teknologi dengan baik. Dengan tetap menjunjung tinggi sosiokultural. Ketika dosen memberikan tugas, dan mahasiswa “mencuri” referensi dan jawaban dari internet, apakah ini sesuai dengan sosiokultural bangsa Indonesia? Ingat kata mama, mencuri itu dosa loh. Apa salahnya membaca buku? Toh, dengan membaca buku, kita akan lebih mendapatkan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika dosen dan mahasiswa menggunakan “pembelajaran jarak jauh”(selalu digunakan), akan lebih baik jika pembelajaran ini tidak terlalu sering digunakan agar dapat membuat pembelajan aktif dan efektif.
Keefisienan teknologi dapat mengubah setiap langkah manusia di zaman modern ini. Melek sedikit sudah berubah teknologi. Apabila tidak diikuti, ya akan gaptek nantinya. Oleh karena itu, gunakanlah teknologi sebaik mungkin dengan tetap menjunjung kehidupan manusia yang bermoral dan bermartabat. Menggunakan teknologi agar mempermudah setiap aktivitas.
Didalam dunia pendidikan memang harus sudah digunakan peralatan teknologi canggih untuk mempermudah pembelajaran. Gunakanlah teknologi dengan efisien dan efektif agar tidak diperbudak oleh teknologi. JANGAN DILEMA TEKNOLOGI!  
                                                                                                                       
                                                                                                                                    @dqalb

Senin, 04 November 2013

Dalam Diam

Dalam diam sebuah himpunan yang hakiki dapat menjadi sebuah kenyataan saat berimpian. Ketika itu, seorang wanita muda sedang asyik bercengkrama dengan teman sepermainannya. Setiap mata memandang pasti meragukan setiap wanita tersebut. Apakah mereka benar wanita? Masih dalam diam, setiap orang yang memandang tak berani untuk berkata sebenarnya.
Suatu waktu ketika wanita-wanita ini berpencar, banyak pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tak harus dipertanyakan, tetapi si aku tetap memberanikan diri untuk ingin memperdalam setiap wanita yang selalu bersama ini. Dalam diam, sang aku tetap menyimpan pertanyaannya, apa aku diperbolehkan masuk kedalam kalian?
Dan sang aku hanya diam, tak berani untuk mengungkapkan setiap kalimat. Dia hanya berfikir dalam diam, mungkin ia bisa menjadi si aku yang sebenarnya. Diam-diam ia dapat mengikuti setiap alur para wanita ini dan tanpa disadari ternyata si aku dapat masuk kedalam dunia para wanita ini. Ia mencari setiap jawaban yang mata-mata memandang tersebut pertanyakan. Mereka berbeda, mereka bukanlah mereka yang mata memandang ini pertanyakan.
Dalam hidup, si aku hanya berusaha untuk hidup normal, bersama kehidupannya dan kehidupan orang lain, ada satu dalam wanita tersebut, si aku merasa janggal, si aku merasa terlalu terpesona melihat si wanita yang berada dalam kelompok itu. Apa harus dalam diam juga untuk mengikuti setiap gerakan wanita ini? Dalam diam si aku mengikutinya. Setiap langkah, mencari langkah, kemanakah ia menuju?
Banyak cerita yang si aku dapat tentang si wanita berkerudung ini. Hati terlalu lembut, jiwa yang tenang, sedikit cuek, akan tetapi terlalu indah ketika tersenyum. Apa si aku terlalu diam untuk senyum melihat malaikat seindah ini? Si aku hanya memberanikan dirinya dalam diam untuk menjaga kelembutan hati si wanita ini.
Tanpa sadar, begitu banyak waktu yang terbuang, si aku mencari setiap pertanyaan tentang si wanita ini, siapa si aku lainnya yang sudah menjaga hatinya? Mengapa bisa si aku lainnya ini mudah untuk mendapatkan hati si wanita ini? Agh! Sudahlah pikir si aku. Dalam diam si aku mungkin terasa tersakiti dengan setiap langkah wanita ini.
Masih dalam diam, mengapa sang aku terlalu bodoh untuk bisa mengikuti setiap langkah wanita ini? Pertanyaan ini selalu terbayang oleh si aku yang tak tahu mengapa pertanyaan tersebut bisa ditanya oleh dirinya sendiri. Si aku tersadar ketika begitu indah dunia luar daripada wanita ini, akan tetapi dunia luarlah yang menggambarkan wanita ini. Sang aku berharap jika dunia luar adalah wanita ini, mungkin begitu banyak keindahan yang bisa disebarkan di muka bumi ini. Terlalu banyak dunia luar yang begitu munafik, dengki, iri dan terburuk sifat yang mereka punya, ada didalam hatinya.
Mungkin dunia luar bisa membuat si aku tenang. Dan masih terbayang sang wanita. Mungkin sang aku harus mengisi setiap dunia luar menjadi sang wanita ini untuk mendapatkan keindahan yang seutuhnya? Jangan selalu menyalahkan sang aku dengan keakuan yang begitu terpana pada keindahan dunia ini.
Biarkan si aku bersama keindahannya! Coba bayangkan setiap dunia luar yang munafik ini tak diimbangi dengan keindahan ciptaan Tuhan ini? Si aku merasa, bukan saatnya untuk memiliki si wanita ini, akan tetapi bagaimana dunia luar bisa memiliki si aku dengan wanita ini hanya dalam diam.
Waktu berlanjut dengan setiap harapan yang terbuat, bisa menjadi kenyataan dengan begitu mudah. Muda, sang aku merelakan si wanita yang telah dijamah hatinya oleh sang aku lainnya, tapi, tua ini, sang aku begitu yakin dengan keadaannya, ia begitu yakin dengan keadaan sang wanita ini.
Sang wanita yang mungkin tak tahu keberadaanya, sang wanita yang tak mudah untuk dicari. Dalam diam, dalam tuanya ia selalu berdoa untuk kelangsungan dunia luarnya bersama sang wanita ini. Sang aku sempat putus asa dengan usaha-usaha yang selalu sang aku lakukan. Untuk menghilangkan sang wanita ini dari dunia luar bukanlah hal yang mudah.
Di tuanya, ia selalu berusaha untuk menghindar dari setiap langkah sang wanita yang entah mengapa bisa berhubungan secara dekat walaupun hanya sebentar. Sang wanita ditakdirkan untuk mempunyai suatu pekerjaan yang sama dengan sang aku ini. Sang akulah pemimpin pekerjaan ini, sang akulah penguasa dalam pekerjaan ini, bagaimana bisa sang wanita ini tahu keberadaan si aku disini?

Hanya Tuhan yang mengetahui mengapa si aku ditakdirkan kembali dalam diam untuk mencintai kembali wanita ini. Terjalin kembali moment dimana dalam diam adalah salah satu peranan penting sang aku yang dulu ternyata kebodohannya membuahkan hasil. Sekarang, bukan dalam diam si aku untuk mengutarakan isi hatinya, dengan hatinya, ia berusaha untuk bisa memikat hati sang wanita.

Penguasa

Penguasa

Aku bukan penguasa
Menahan karsa menumbuhkan puing kaku
Syahdu alam melanggar rasa
Aku tetap bukan penguasa

Tumbuh ragu, mengapa semua bersalah?
Tapi aku tetap bukan penguasa
Mungkin jiwa tertahan
Telah mati, mungkin

Imbas pada semua makhluk
Berkutik lemas setiap gerak
Aku dingin, percaya pada mereka
Yang masih bukan penguasa

Jauh melawan arah
Berpayung pada etika salah
Mereka menipu dini
Demi kekuasaan semu

Selasa, 22 Oktober 2013

Bidadari Dunia



                Terfikir sebuah retorika, mengapa aku bisa hidup di dunia semu ini? Banyak makhluk yang bertopeng, mencari kursi kehidupan yang rapuh, menjaga eksistensi maya dan sebagainya. Aku merasa hidup ini terlalu sulit untuk berhadapan dengan makhluk –makhluk seperti itu.
                Ketika aku kecil, aku sempat bertanya kepada seorang manusia yang aku tak tahu mengapa rautnya begitu indah untuk dipandang. Mengapa ada kehidupan? Mengapa ada pohon? Mengapa harus makan? Mengapa sayur banyak vitamin? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ia begitu tulus untuk menjawab setiap pertanyaan itu. Aku bahkan tak tahu, mengapa ia bisa menjelaskannya secara detail dan aku begitu percaya dengan setiap omongannya.
                Semakin percaya aku bahwa ia adalah bidadari ketika ia bisa mengusap kepedihan yang aku lukiskan melalui air mata. Saat aku terjatuh dari sepedaku dan aku merasa aku akan mati! Dekapan itu membuat aku hidup kembali. Coba, coba, dan coba. Aku terus mencoba untuk mendapatkan dekapan itu. Memulai sepedaku yang beroda empat, beroda tiga dan akhirnya aku bisa mengendarai sepedaku tanpa bantuan roda tambahan itu.
                Setiap sore kami berjalan, dengan sepeda kecilku, kami berdua, dengan setiap cerita yang begitu antusias aku dengarkan. Tak terasa sudah lima belas menit kami berjalan untuk mencapai rumah nenek. Keringat itu sengaja aku hapus dari keningnya dan aku ambil segelas air putih yang segar untuk menyejukkan tenggorokannya. Aku merasa inikah manusia yang akan membantuku di dunia ini?
                Bidadari mana yang bisa menggantikannya? Saat dingin merasuki setiap jengkal tubuhku, ia sudah berada disisiku? Bidadari mana yang bisa menggantikannya? Ketika aku tak mau makan, ialah pencerita pangeran dan monster jahat? Aku adalah manusia yang paling sempurna saat bidadari ini selalu dekat disampingku.
                Aku mengenal teman dan lingkungan sekitar. Aku begitu banyak mendapatkan pengalaman dari teman sebaya waktu itu. Ketika kami sedang bermain layang-layang, seseorang menyuruhku untuk pulang dan pergi ke mesjid untuk solat. Agh! Aku sedang sibuk bersama teman-temanku! Aku sempat membentaknya. “nanti dulu, bu. Aku masih nunggu layanganku turun.” Ia begitu yakin dengan jawabanku. Aku begitu letih, dan solatpun kutinggal, dan ya, aku juga tak ke mesjid. Waktu telah terlalu larut untuk melaksanakan solat magrib. Ia marah besar kepadaku. Mulai besok, aku tak boleh bermain layangan pada sore hari.
                Agh! Teman. Merekalah setanku waktu itu. Mereka begitu luar biasa menggodaku. Setiap saat, setiap ada celah, mereka pasti menawarkanku kegiatan buruk mereka. Ayolah! Lempar saja jambu itu, orangnya lagi gak ada tuh! Ayo, jangan takut, petasan ini gak akan buat kamu mati kok! Terkadang aku terikuti oleh setiap omongan mereka dan alhasil aku mendapatkan batunya di rumah.
                Mengapa bidadari ini terlalu peduli dengan hidupku? Aku punya kehidupan dan tak ada seorangpun yang bisa mengganggu hidupku! Mungkin ada kata kasar yang tak sengaja aku ucapkan, diam-diam, dini hari, aku melihat seorang bidadari indah, dengan telekung putih menitikkan air mata diatas sejadah. Begitu indah, begitu indah, aku diam-diam masuk kedalam pangkuannya. Dengan cepat ia menghapus setiap titik air mata yang ada di pipinya. “ibu gak papa? Kok nangis?”.Ia hanya tersenyum, banyak nasehat yang ia ceritakan kepadaku disitu. Ntah mengapa, setiap dongeng yang ia ceritakan pasti aku laksanakan di kehidupan yang semu ini.
                Aku begitu yakin, bidadari itu ada. Ketika aku beranjak remaja, teman dan setan selalu menemani langkahku. Perselisihan dengan bidadari ini selalu saja ada setiap hari. Aku mulai bosan dengan setiap ceritanya, aku mulai risih ketika aku berbeda dengan teman-temanku yang mereka selalu bebas dengan kehidupannya, dan aku mulai melanggar setiap peraturan bidadari ini untuk teman yang memperburuk kehidupanku.  Aku mulai meragukan bidadariku ini.
                Susu putih setiap pagi? Nasi goreng yang lezat? Mengapa ia selalu menyiapkanku perbekalan yang cukup untuk kegiatanku setiap hari? “Bagaimana sekolahmu?”. Kalimat inilah yang pertama kali ia ucapkan setiap kali aku pulang sekolah. Tapi aku masih meragukan bidadari ini.
                Mengingatkanku untuk solat melalui telepon? Mengingatkanku untuk pulang? Menungguku pulang sekolah sampai magrib? Mengapa ada seorang bidadari indah seperti ini yang aku sia-siakan? Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepalaku ini. Mungkin aku merindukan sebuah dekapan saat aku terluka dalam menjalankan kehidupan ini? Mungkin aku juga merindukan sebuah dongeng monster yang selalu menemaniku setiap malam.
                Semakin aku dewasa, semakin aku tahu, bidadari inilah yang selalu melengkapi hidupku. Yang selalu menyiapkan makan malamku, ketika aku pulang les tambahan sampai jam sepuluh malam? Yang selalu mendoakanku setiap malam untuk setiap cita-citaku? Siapa lagi yang bisa menggantikannya?
                Mungkin wajahnya sudah tak sesegar dulu, tapi jiwanya seakan selalu memudakan dirinya.  Aku mungkin merindukan setiap detik bersamanya. Bersama ketika kami melewati hujan deras dan ia memberikanku jaket hangatnya untukku? Bersama ketika kami takut dalam kilatan petir? Bersama ketika kami menertawakan seorang gila yang memakan sampah?
                Kerinduan ini sudah pupus saat aku dewasa, bidadari ini selalu menyemangatiku dalam hidup, mendengarkan setiap cerita gundahku, membantuku untuk membangun sedini mungkin untuk belajar, menggangguku dalam belajar agar tak terlalu gila, membuatkan teh panas ketika aku sakit.
                Sekarang bidadari ini sudah menjadi temanku, tak ada yang bisa menggantikannya didalam qalbu ini. Ia menggantungkan hidupnya demi aku, sang anak yang terlalu banyak menorehkan cerita singkat didalam kehidupannya. Setiap langkahku, selalu ia tuliskan dalam doa. Menahan sakit yang begitu perih oleh karena aku. Semua itu ia lakukan demi aku.
                Ibulah bidadariku, bidadari duniaku, sang bidadari yang mengenalkan diriku, mengapa aku hidup?
                Ibu        

Selasa, 15 Oktober 2013

Pengajaran Disiplin dan Kepedulian Berdasarkan Budaya dalam Keluarga

Di Indonesia, kebudayaan sangatlah penting dalam aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang memengaruhi kebudayaan adalah keluarga. Keluarga berperan penuh dalam pengaplikasian kebudayaan ini. Disiplin dan kepedulian merupakan kebudayaan yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua untuk memelihara kebudayaan Indonesia yang sopan dan santun. Bukan hanya itu, diharapkan juga dengan pembelajaran ini anak bisa menjadi berkarakter.
          Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Tujuan disiplin untuk mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, bersikap tertib dan efisien. Di dalam keluarga, ini sudah diterapkan dengan contoh-contoh yang sederhana. Seperti; mencuci tangan sebelum makan, sebelum tidur sikat gigi terlebih dahulu, beribadah tepat waktu, dan masih banyak lagi. Upaya ini diterapkan dengan menceritakan kepada anak bahwa apabila setiap kegiatan tidak dimulai dengan mendisiplinkan diri, maka kehidupan mereka akan tak berjalan dengan mulus. Salah satu contohnya adalah tidak mencuci tangan sebelum makan, maka kuman akan masuk kedalam perut yang dapat menyebabkan sakit perut. Orang tua menceritakan bagaimana apabila anak tidak mencuci tangan sebelum makan akan menyebabkan sakit perut dengan cerita yang didramatisir sehingga anak akan takut apabila ia tidak disiplin.
Penerapan disiplin sejak dini akan membantu anak mengenal aturan dan menampilkan perilaku sesuai tuntutan lingkungan. Anak tidak bertindak dengan aturannya sendiri melainkan belajar berkompromi antara dirinya dengan tuntutan-tuntutan yang ada di lingkungan sekitarnya. Kebiasaan disiplin dalam keluarga yang sudah ditanamkan sejak dini akan membantu anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan pada lingkungan baru yang dimasuki, misalnya sekolah.
Dalam penerapan disiplin di keluarga, orang tua berperan aktif dalam membantu peranan disiplin. Orang tua juga harus menyontohkan disiplin kepada anak. Harus ada komitmen oleh orang tua dalam penerapannya. Ketika orang tua menjelaskan perilaku A tidak boleh dilakukan maka akan mendapatkan konsekuensi B, dan konsekuensi itu harus dilaksanakan. Orang tua juga harus mempunyai target yang realistis dalam penerapan disiplin. Meminta anak untuk melakukan kebiasaan disiplin sesuai dengan batas kemampuan dan usianya. Orang tua juga bisa memberikan reward kepada anak untuk memotivasinya agar selalu berbuat disiplin. Reward tidak selalu dalam bentuk barang, akan tetapi bisa dengan aktivitas yang menyenangkan, ucapan dukungan, pelukan, dan sebagainya. Penerapan aturan yang konsisten dari orang tua juga sangat penting agar anak tidak bingung aturan mana yang harus ditaati atau mencari celah aturan mana yang akan dilanggar. Orang tua juga harus memfokuskan aspek disiplin ini dengan memilah-memilah satuan disiplin yang dapat dilaksanakan.
Begitu juga dengan pengajaran kepedulian. Dimulai dari keluarga yang merupakan aspek penting dalam pengajaran ini. Bagaimana anak harus bisa peduli kepada sesama maupun lingkungan. Kepedulian ini dapat membangun karakter anak untuk mempunyai sifat simpati dan empati. Yang mana kepedulian orang dewasa terhadap sesama dan lingkungan tidak berjalan dengan semestinya, orang tua dapat menceritakan kejadian tersebut dan membangun kepedulian anak sejak dini. Kepedulian juga membuat anak lebih mandiri dengan apa yang ia akan lakukan apabila orang tua selalu memberikan masukan positif dan menjadikannya kebudayaan didalam keluarga.
Pengajaran kepedulian yang dimulai sejak dini, melatih anak untuk dapat menjaga konsistensi sesama dan lingkungan. Kemungkinan besar, apabila kepedulian diajarkan sejak dini, kekerasan tidak akan melekat pada dirinya ketika ia akan dewasa, karena pengajaran kepedulian membuat mereka merasa harus menjaga sesama yang erat.
Oleh karena itu, pengajaran disiplin dan kepedulian yang dilakukan di Indonesia sudah menjadi budaya yang relevan dan sudah ‘harus’ dibiasakan sejak dini oleh keluarga. Pengajaran ini juga merupakan aspek penting dalam budaya yang seharusnya dijadikan kebudayaan di Indonesia. Menjadikan anak lebih berkarakter dan bertanggung jawab atas setiap disiplin yang ia lakukan. 

Kamis, 10 Oktober 2013

Who Am I?

Seorang wanita sudah bergegas untuk kelahiran seorang anak lelaki pertamanya. Kamis, 21 Desember 1995, ia dan suaminya bersama solat tahajjud untuk kelancaran kelahiran anak mereka. Jum’at, 22 Desember 1995, selesai solat jum’at, lahirlah anak pertama mereka. Dedy Qalbu Hadi disepakati mereka untuk menjadi nama saya. Mereka adalah ibu dan ayah saya. Beiny Dar dan DR. Sutarman M,Sc. Mereka mengambil nama saya melalui sebuah kota yang berada di Amerika dimana ayah saya mengambil studi magisternya disana. Illinuois, Dekalb. Dan dari Dekalb itu lah terbentuk Dedy Qalbu – Hadi.
Diumur satu tahun, saya harus ditinggal oleh ayah saya yang melanjutkan studi doktoralnya di Malaysia. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari kami, ia rela bekerja lepas, sebagai apa saja. Buruh pabrik, pencuci piring restoran, dan lain sebagainya. Disaat krisis moneter, ayah harus berusaha keras untuk membeli kebutuhan bayi saya, terutama susu. Dikala itu, tiba-tiba saja harga susu naik dan menghilang. Ibu harus membeli susu saya dengan susah payah mencari.  Belum lagi kebutuhan lainnya, kebutuhan pokok melambung pesat harganya. Tak dibayangkan pada masa itu bagaimana kami bisa bertahan hidup. Ayah hanya tiga bulan sekali pulang untuk melihat keadaan kami di rumah.  Cukup mengharukan saat saya mendengar cerita ibu saya, disaat musim hujan, petir dan guntur yang keras, saya dan ibu bersembunyi di kamar mandi karena ketakutan yang ibu saya rasa.
            Setelah sudah sekian lama ditinggal, ayah akhirnya menyelesaikan studinya dan menjadi seorang dosen di Universitas Sumatera Utara. Kehidupan kami belum lepas dari kehidupan dibawah kesederhanaan. Ditambah lagi sebuah rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, saya mempunyai seorang adik. 22 September 2000, Sarah Khairunnisa lahir ke dunia ini.
            Adik saya sering sakit-sakitan. Mungkin pahitnya hidup baru dirasakan ketika adik saya lahir. Hampir setiap minggu pasti ke rumah sakit. Ibu saya tetap berusaha untuk tetap menjadi wanita yang tegar dan tetap menyayangi anak yang paling ia sayang. Banyak rumor yang tak mengenakkan dari berbagai pihak. Para tetangga mengatakan bahwa adik saya sering sakit-sakitan dikarenakan diganggu oleh makhluk halus. Kebetulan lingkungan saya, mereka terlalu mempercayai makhluk-makhluk halus. Dan didalam medis, adik saya hanya sakit biasa yang terjadi pada anak-anak.
            Saya memulai sekolah pertama saya di Taman Kanak-Kanak  Al-Ittihad (Nol Kecil)  dan melanjutkan Taman Kanak-Kanak Muhammadiyah (Nol Besar) dengan luar biasa. Saya sangat bersemangat untuk bersekolah ketika itu. Dan melanjutkan sekolah dasar di SD Wahidin Sudirohusodo.
            Pada sekolah dasar, saya tidak menunjukkan banyak prestasi. Saya adalah orang yang sangat pemalu, pesimis dan suka menyerah. Suatu ketika, saya disuruh untuk mengikuti lomba pidato di kelas empat. Jangankan untuk berbicara di depan umum, di depan guru saja saya sudah ‘nervous’. Guru saya membimbing saya sehingga saya berhasil dipujuk untuk mengikuti lomba tersebut. Tangan saya tak berhentinya bergetar ketika saya maju untuk menyampaikan pidato saya. Dan dari sinilah saya belajar untuk berbicara didepan umum tanpa canggung.
            Saya berhasil lulus SD dan melanjutkan sebuah sekolah menengah pertama yang tidak favorit. SMP Negeri 39 Medan. Walaupun saya bisa masuk ke sekolah menengah pertama favorit, ibu saya melarang dikarenakan terlalu jauh untuk saya. Si masa sekolah menengah pertama ini pun, saya hanya sedikit mengukir prestasi. Saya hanya bisa mendapatkan juara tiga, empat, dan lima. Disini saya mengenal kehidupan organisasi. OSIS. Saya menjadi ketua OSIS semasa SMP dan dengan pelajaran pidato ketika SD, saya cukup berani untuk tampil didepan umum.
            Untuk melanjutkan ke sekolah menengah atas, saya tak bisa melanjutkan ke sekolah yang sangat ingin dituju para anak SMP, sekolah favorit itu tak bisa saya tuju dikarenaikan nilai UN saya tak mencukupi, dan saya harus masuk ke sekolah negeri biasa. SMA Negeri 16 Medan. Saya mulai berani menunjukkan siapa diri saya sebenarnya disini. Saya sering mengikuti lomba pidato dan sering juga saya menjadi juara. Yang paling saya ingat adalah ketika saya mengikuti lomba pidato yang diadakan oleh Konsulat Amerika untuk Indonesia. Saya mendapatkan juara ketiga pada lomba itu. Saya begitu bangga dan terlalu dilema karena perlombaan ini. Saya banyak mendapatkan pelajaran yang begitu berharga di masa SMA ini. Saya harus berusaha keras untuk bisa masuk ke PTN yang ingin saya tuju, jurusan yang saya tuju dan sebagainya. Saya mengikuti bimbingan belajar yang begitu jauh dari rumah saya. Dan tak jarang hampir larut malam saya bisa sampai ke rumah dengan pakaian sekolah yang sudah begitu kotor dan bau.
            Saya menginginkan masuk ke UGM (Universitas Gajah Mada) dan UI (Universitas Indonesia) dengan jurusan psikologi. Tetapi, saya teringat ibu, ayah, dan adik saya. Jika saya pergi jauh dari rumah, siapa yang bisa membantu orang tua saya lagi? Siapa yang akan mengantar adik saya untuk pergi kursus? Toh, semua Universitas negeri di Indonesia ini sama saja. Dan akhirnya dengan berembuk denga orang tua saya, saya memutuskan untuk mengambil Universitas Sumatera Utara sebagai pilihan pertama pada SNMPTN.

            Dengan kerja keras dan doa selama ini, Alhamdulillah, saya berhasil menuju salah satu cita-cita saya yaitu menjadi mahasiswa psikologi. Mengapa saya ingin menjadi mahasiswa psikologi? Suatu hari saya pernah terbayangkan, ‘Mengapa seseorang bisa sedih? Mengapa seseorang bisa begitu marah? Mengapa seseorang bisa mengutarakan suara hatinya dengan begitu indah?’ Semua pertanyaan itu ingin saya temui jawabannya dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan tentang sisi kehidupan manusia yang hanya bisa dipelajari apabila saya menjadi mahasiswa psikologi. Saya berharap, saya bisa menjadi seorang psikolog handal yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang sana yang tak mempunyai kesempatan masuk ke dunia psikologi secara mendalam dan bisa menjadi panutan di keluarga saya.

Kamis, 14 Februari 2013

Kita, SMA



         Tiada waktu yang dapat menggantikan masa ini. Ya, masa ketika moral, etika, ancaman, teman dan faktor puber yang telah lewat bersemi di masa ini. Sebuah perumpamaan tua bahwa masa SMA merupakan  masa yang paling indah, sekalipun kau telah bertemu dengan Tembok Cina. Sering kita mendengar perdebatan besar diantara kita, akan tetapi itu bukanlah masalah yang harus dibawa sampai bel istirahat berbunyi. Sering juga kita mendengar tawa lantang teman-teman kita karena dia hanya ingin menutupi masalah besar yang ia punya. Ya, masa ini. Seekor serigala bermuka domba dan seekor domba bermuka serigala. Tak ada yang salah dan tak ada yang bisa disalahakan.
            Pernah kau merasa terkucilkan karena kau telah salah menilai sebuah perdebatan, pernah juga kau merasa tinggi saat kau memenangkan perdebatan itu. Kala ini adalah kala seekor serigala harus sombong dengan muka dombanya, dan seekor domba harus menutupi muka serigalanya.
            Pertama sekali, kita berdiri bersama, akan tetapi tak mengenal satu sama lain, kala itu adalah sebuah upacara pertama yang kita ikuti, masa orientasi siswa, ya, apakah kalian masih ingat? Tak ada tegur sapa, gelisah ingin upacara tersebut cepat berakhir dan ingin menjumpai teman lama, teman menengah pertama kita. Jangankan kalian, aku adalah manusia yang paling diam kala itu, tak sebanding dengan aku yang sekarang ini. Tak bisa dilukiskan aku waktu itu. Dengan celana kebesarana seperti Elvis dan baju yang sangat rapi, mencari teman yang paling ideal untuk teman sementara. Saat itu kita semua masih seekor serigala bermuka domba.
            Timbul kebencian karena apa yang kita harapakan tak semudah apa yang kita inginkan. Ya, teman. Sulit untuk seorang pemuda/i baru selesai puber untuk berinteraksi dan beradaptasi di suatu lingkungan yang isinya dalah seluruh umat yang baru selesai puber juga.
            Lambat laun, itu semua berakhir, cerita kita semua bermula disini.
            Kau mempunyai teman, aku mempunyai teman, teman adalah kau, kau adalah aku, aku adalah teman kau, masih ingin mencari apa yang ada didalah hati teman, kau dan aku.  Kita coba untuk tertawa bersama, belum untuk merasakan duka. Layaknya bersenggama, tak ada lagi batas canda kita, tak ada lagi batas antara hati kita, kau, teman. Tapi, kita masih ragu, apakah kita akan selalu besama? Apakah canda-canda yang telah kita perbuat bisa menjadi bahan canda anak cucu kita? 
            Ya, kita diakhiri dengan akhir dari permulaan kita, masa kecupuan kita telah hilang dan kita telah dipecah, mencari teman barru, mencari lingkungan baru, mencari sebuah adaptasi yang harus kita jadikan sama. Ya, mungkin kala ini juga adalah waktu dimana untuk pertama kali cepat untuk berinteraksi, mencari teman baru dan mengisi canda yang baru. Tak ada yang serigala yang mengaku bahwasanya ia adalah serigala. Masih saja tetap dengan dombanya.
            Di masa ini untuk pertama kali juga kita mengenal sebuah kekompakan yang sangat kental. Sudah mengenal arti duka bersama teman. Duka yang kita rasakan bersama, saat air itu menetes membasahi selaput matamu dan kita. Tak peduli apa yang dikatakan orang tentang kekompakan yang sangat gila, melebihi batas demi kawan. Tapi ini semua belum berakhir. Ada satu masa lagi yang mana kita harus berpisah karena kesenjangan yang telah kita perbuat. Mungkin kita adalah keluarga yang tak bisa dipisahkan, teman, tetapi kita juga adalah lawan didalam kurungan, siapa yang bersungguh-sungguh, ia lah pemenangnya.
            Dan kita harus memecah dan tak bersama lagi saat kita harus dipisahkan oleh kelas yang berbeda. Mencari teman baru, mencari lingkungan baru dan mencari sebuah candaan baru. Tapi, kita merasa berbeda di waktu ini. Aku tak mengenal lagi canda riangmu yang bisa membumihanguskan seluruh isi bumi ini, aku tak melihat mata yang bisa berkaca-kaca itu lagi, karena kita sekarang berbeda, bersama teman baru kita yang berbeda. Kali ini kita memang benar-benar tak mengetahui bahwa kita adalah serigala. Dan aku yakin, kita merasa jauh.
            Kita seakan takut untuk bertegur sapa sekarang, takut untuk menggangu dengan teman baru. Terkadang kita seakan membeku untuk memulai candaan itu, tapi takut untuk memulai. Ya, aku mengerti teman…
            Ini adalah waktu penentu kita. Sebuah waktu, saatnya kita merangkul satu sama lain, walaupun kita berbeda. Aku masih menerima kita sebagai teman dan aku masih ingin menjadi serigala tanpa topengku ini…
            Tapi situasi yang berbeda ini membuat kita harus tetap memakainya. Ya, kita harus mengikuti jalur mana yang harus kita lalui. Sekarang aku berada di hilir dan kau ada di hulu. Mungkin ini waktu kita untuk berpisah, tapi suatu saat kita pasti bersama di suatu delta yang dalam dan tak ada yang bisa memisahkan kita.
            Saat aku di hilir ini, aku mengenal banyak teman yang sama dengan diri kita. Aku mencoba untuk menjadi diri kita dengan teman baru ini dan aku yakin bisa. Kami mengenal banyak duka disini, canda tawa kami tak bisa terbendung membuat guru-guru yang masuk selalu tersenyum melihat aksi yang menurutku rumit ini.
            Aku dan kita sudah bersama, tiada yang bisa memisahkan kita selain perbedatan hebat diantara kita. Pelajaran-pelajaran untuk berbedat dan saling menjatuhkan sudahb biasa terjadi diantara kita, tapi itu hanya sebatas pelajaran dan selalu berubah disaat bel istirahat berbunyi. Aku yakin kita mempunyai hati yang sama. Tak ada dendam diwaktu istirahat dan berubah mencekam saat bel masuk berbunyi.
            Masih banyak yang harus ku ceritakan tentang kita, tapi aku takut untuk melanjutkanya, aku takut untuk mengenang duka dan suka  kita. Aku takut mengenang saat kita ingin menyatukan satu tujuan akan tetapi tak ada tujuan yang bisa dituju. Seribu pendapat tak ada yang bisa didengar karena ricuhnya pendapat kita, kala itu kita ingin menang, tapi musyawarah pendapat adalah pemenangnya.
            Aku juga takut mengenang saat kita membuat sebuah janji yang tak terlupakan, sebuah burung kecil dengan harapan kecil kita. Dengan semangat menggebu-gebu aku membuat sebuah harapan besar berharap harapan besar tersebut bisa menjadi kenyataan. Tapi, tak ada satupun dari kita menetapi janju itu. Aku dengan alasanku dan kau dengan alasanmu juga. Kau menghina alasanku dan aku tak bisa berkata apa-apa karena aku percaya bahwa bel istirahat harus berbunyi.
            Mungkin tulisan kecil ini adalah saksi kecil kita.
            Teman,
            Aku ingin menyimpan semua memori itu,
            Saat aku ingin menyimpan semua puisi yang telah kau buat, semua lukisan cahaya yang telah kita raih bersama, dan semua tentang kita.
            Aku ingin cerita kita tak berakhir. Kita berbeda
            Insha Allah.